cerita mesum

Gelombang Birahi 1

Saat malam yang dingin dan sepi, dirumah sepasang suami istri, Aang dan Esih, sedang asyik bercumbu. Tangan Aang terus meraba raba dada Esih..Ah..esst hush , Leher jenjang Esih dipenuhi liur Aang yang lidahnya terus saja menjilat jilat ..leher..terus naik.. dikuping Esih.aaahurgesssssst. tangan kanan Aang mengelus ngelus paha….dan bermain main disekitar bibir kemaluan ahaah..

Esih dibuat penasaran dengan elusan jari Aang yang hanya bermain main dipinggir bibir kemaluan… tanpa sadar mengangkat pantat dan pinggul, Esih menginginkan lebih….aah..ah… tiba tiba Aang mendorong tubuh Esih keranjang dan terlentang Esih yang sudah bugil.. terlihat payudara Esih yang bundar berukuran 34 B dab kemaluan yang munjung dipenuhi bulu bulu halus yang tidak bergitu lebat, dapat terlihat belahan bibir memeknya

Aang langsung menerkam dengan buas mencium dan menjilat jilat, menghisap putting Esih dan tangan Aang terus memelintir klitoris Esih.. aah..urg.. terasa ditangan lendir Esih yang terus keluar membasahi memek…. “

Aa… esih udah nggak tahan… ayo..Aa..” esih sudah tidak tahan diperlukan seperti oleh Aang dan Aang pun menuruti kemauan, di taruh kaki kanan Esih dipundak, Aang mulai mengarahkan kontolnya ke lubang memek Esih… tapi baru nempel di memek….”

Baca Juga: Kamu Mau Dibantuin Gak!?

Aahh.. “ Aang sudah memuncratkan spermanya, Aang orgasme dan batang kontolnya langsung lemas tidak dapat melanjutkan tugas akhir. “ Esih maafkan AA….”

Bisik Aang gundah dan rasa sesal yang besar. sudahlah AA.. jangan berkecil hati…” hibur Esih.

Aang merasa iba sama Esih, akhirnya Aang mengelap bibir memek Esih yang basah oleh cairan sperma lalu Aang mulai beraksi dengan lidahnya menjilat jilat bibir memek esih..” aaah.. “ bibir memek esih dilebarkan untuk memudahkan Aang menjilat menghisap klitoris Esih

“Urg…ssssst…aaah ehm.. “ erang Esih yang merasakan kenikmatan. Lidah Aang menyapu mulai dari bawah…terus..berhenti diklitoris dan dihisapnya klitoris Esih…”

“Ooooh”…” erang Esih serasa ada dilangit ketujuh….10 menit kemudian Esih mulai menegang, pahanya mengampit kepala Aang dengan ketat..tangan meremas sprei..kepala goyang kekanan dan kekiri….berdenyut denyut memek Esih..detik detik mencapai orgasme… pinggul terangakat…tersemburlah cairan hangat dari lubang memek esih..”oooh…aahh…Urrg..AAAA “.. erang Esih.

Aang duduk disamping Esih yang masih merasakan gemuruh jantungnya sehabis orgasme. “ Esih..maafkan saya, saya tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik sebagai suami sejak kita menikah..” bisik Aang sambil membelai rambut esih dengan kasih. “

Sudahlah..AA tak perlu dipikirkan.. yang penting saya puas…” ucap Esih. “ kasian isriku hingga saat ini belum merasakan kenikmatan yang sesungguhnya, bagaimana caranya agar istri dapat merasakannya..” batin Aang berucap. Karena kelelahan Esih pun tertidur….

Dapur itu tidak begitu besar, sebuah lemari bersandar di dinding diantara ada setumpuk barang dan meja beserta kursi, juga terdapat sebuah rak yang berisi piring piring dan macam macam peralatan masak. Esih begitu terkejut dan tersentak kaget begitu merasakan pantatnya diraba dari belakang,

Esih langsung berbalik dan menepis tangan Nana. “ kurang ajar,…jangan keterlaluan ya…” bentaknya marah. “ ahahhah…Ayolah Esih..semalam juga Esih nafsu bangetkan ?” seringai Nana.

Esih benar benar kehabisan akal, dia tidak tahu harus bagaimana lagi sedangkan kejadian malam itu dalam benaknya dan hayalannya yang memerawaninya dan memberikan kenikmatan adalah Aang, suaminya.

sudah cukup..Nana, saya mohon lepaskan saya….” Esih memohon.

Cukup apanya Esih, belum juga apa apa, pokoknya dijamin puas deh..” ujar Nana sambil mendekap dan mendorong tubuh Esih agar merapat ditembok, tangannya meraih ujung baju Esih hendak menyingkapnya. “jangan..jangan Nana, saya mohon !” ucapnya mengiba sambil menahan tangan Nana yang menaikan bajunya.

Namun tenaganya tentu kalah dari pria yang penuh nafsu itu yang menepis tangan dan langsung menyingkap kaos sekaligus bra hitam dibaliknya. Kini mulut Nana dengan raqus menjilat dan menyedot puting Esih yang merah dadu itu, setelah beberapa saat tanganya yang mengerayangi payudara yang lain mulai turun ke bawah mengelus paha mulusnya lalu menyusup ke dalam roknya.

Di dalam rok, tangan kasar itu menjelajahi kemulusan paha dalam Esih sebelum akhirnya menjamah selangkangannya yang masih tertutup celana dalam. Esih hanya bisa pasrah menerima perlaquan itu, dia mendesah dan sesekali terisak saat tangan itu mulai meraba raba kemaluannya dari luar.

Rasa geli membuatnya mengatupkan kedua belah pahanya sehingga tangan Nana terjepit diantara kemulusan kulitnya. Hal membuat Nana makin bernafsu, Nana mulai menyusupkan jari jarinya melalui pinggiran celana dalam Esih dan menyentuh bibir memeknya yang telah becek..”ehm..kamu sudah terangsang Esih..” ucap Nana sambil nyengir lebar merasakan daerah kewanitaan Esih yang telah basah.

Kemudian dengan mengaitkan dua jari, ditariknya celana dalam Esih yang berwarna hitam, lalu menarik badan Esih agar terduduk di bangku. Diangkatnya roknya sehingga angin menerpa tubuh bagian bawah yang telah terbuka itu dan dengan memaksa Nana membuka paha Esih lebar lebar yang memperlihatkan kemaluan Esih yang berbulu tipis kepada Nana yang berjongkok didepannya.

Esih mengigit bibir dan memejamkan mata, tak pernah terbayang olehnya akan melaqukan hal ini di depan Nana, sahabat suaminya. “ Wah..sudah dari semalam saya ingin merasakan yang satu ini ! “ katanya sambil menatapi daerah pribadi Esih dan mengelusnya. Kemudian Nana melumat memek esih dengan ganas, diserangnya setiap sudut memek, mulai dari bibir hingga klitoris disertai gigitan gigitan kecil, tangan kanannya meraih payudara dan meremasinya, sedangkan tangan kiri menelusuri kemulusan paha Esih.

Uh..uhhh..erg…sudaaah…aargh!! “ desah Esih dengan tubuh menggeliat geliat menahan rasa geli yang bercampur nikmat luar biasa itu, timbul suatu perasaan yang tidak bisa ditahannya lagi. Tubuh Esih telah basah oleh keringat, wajahnya memerah dan nafasnya makin memburu….. mendadak Esih merasakan bulu kuduknya merinding semua,

Secara naluri Esih merapatkan kedua pahanya mengapit kepala Nana karena merasakan sensasi yang luar biasa dahsyaaat… ternyata Nana membenamkan lidahnya lebih dalam dari memek Esih, dan merasakan dinding memeknya menjepit lidah Nana, Esihpun merasakan putingnya makin mengeras karena terus dipilin dan dipencet-pencet oleh Nana.

Puas bermain main dengan memek Esih, Nana mengankat tubuh Esih bangkit berdiri dan merapatkan ketembok sehingga posisinya saling berhadapan. Tanpa perlawanan berarti Nana membuka kaos dan bhnya Esih, yang tersisa hanya rok yang tersingkap ke atas, sementara Nana masih memakai kaos dan celana.

Wajah Esih yang tertunduk diangkat, ditatapnya sebentar disekanya air mata yang mengalir dan tiba tiba melumat bibir Esih yang ranum dengan ganas. Mata Esih terbelalak menerima serangan kilat, Esih menggeleng gelengkan kepalanya sambil mendorong dada Nana, namun sia sia karena tubuhnya rapat dengan tembok dan dalam keadaan tubuh yang dipeluk dengan kencang oleh Nana sedangkan tangan satunya memegangi kepala Esih.

Lidah nana mendorong dorong dan menjilati bibirnya Esih, ditambah lagi tangannya Nana merabai kulit punggung dan pantat Esih, menyebabkan Esih makin terangsang sehingga bibirnya mulai membuka membiarkan lidah Nana menyerbu rongga mulutnya. Nana merasakan badan Esih sudah mulai rileks dan tidak meronta lagi, Nanapun melepaskan pegangannya pada kepala Esih agar bisa menjamah daerah lainnya.

Tanpa sadar Esih merespon permainan lidah Nana walaupun pada awalnya tidak nyaman dan hati nuraninya menolak,tapi Esih tidak dapat menahan gelombang birahi yang dilancarkan oleh Nana lewat sentuhan sentuhan yang dahsyat dan Esih masih merasakan sisa-sisa kenikmatan semalam.
Kedua telapak tangan Nana mencaplok pantat Esih, masing masing mencaplok satu sisi. Dirasakan oleh Nana kedua bongkahan daging itu, bentuknya padat berisi dan bulat indah.

Ciuman Nana makin merambat keleher Esih yang jenjang lalu membungkukkan badan agar dapat menciumi payudara Esih yang akal sehatnya telah buyar dan lagipula Nana telah merasakan kenikmatan memeknya namun yang membedakannya sekarang ini diiringi dengan sentuhan sentuhan yang membangkitkan birahinya.

Dari leher mulut Nana turun kedadanya Esih, badan Nana membungkuk agar bisa menghisap payudara Esih yang berukuran 34b yang bulat dan montok. Dijilatinya dengan liar sehingga permukaan payudara Esih basah oleh air liur Nana, terkadang Nana mengigit putting Esih memberikan sensasi tersendiri bagi Esih.

Tangan Nana yang satunya meraba dan memainkan jari di memek Esih menyebabkan memek Esih makin berlendir. “Na..gaaa..mauuu…aah..ah,” desahnya antara menolak dan menerima. Tubuh Esih yang telah bersandar ditembok, sambil berciuman tangan Nana memegang batang kontolnya dan menempelkan kepala kontolnya di bibir memek Esih.

Gesekan antara kepala kontol dan bibir memek Esih membuat geli sehingga tubuh Esih menggelinjang nikmat, pelan pelan Nana menekan kontolnya ke liang senggama Esih.

“shh…sst..hush..saakiit..aww.!!!” rintih Esih ketika kontol Nana yang besar menerobos memek Esih yang baru sekali dipake sehingga memeknya masih sempit. Sementara nana terus berusaha memasukan kontolnya sambil melenguh lenguh.

Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya masuklah seluruh kontol Nana ke memek Esih, walaupun nafsu sudah diubun ubun Nana masih berhati hati agar Esih tidak menjerit dan suaranya terdengar keluar rumah, oleh karena itu Nana pelan pelan saat penetrasi ke lubang memek Esih yang masih sangat rapat dan seret.

Esih merasakan sakit pada memeknya menyebabkan air matanya meleleh.

Sesaat kemudian Nana sudah menggoyangkan pinggulnya mula mula gerakannya perlahan tapi makin lama kecepatannya meningkat. Esih yang sudah lepas kendali menjerit dan mengerang setiap kali Nana menghujam kontolnya. Nana berharap suami Esih tidak cepat pulang dan mendengar erangan Esih. Saat itu suami Esih sekaligus sahabat Nana sedang ada dipematang sawah.

Gesekan demi gesekan yang timbul dari kedua kelamin yang berlainan jenis menimbulkan rasa nikmat yang dahsyat yang menjalari seluruh tubuh Esih yang baru pertama kali ini Esih merasakan kenikmatan yang sesungguhnya setelah sekian lama menikah dengan Aang.

Kenikmatan terus menjalari tubuh Esih yang menyebabkan matanya membeliak beliak dan mulutnya megap megap mengeluarkan rintihan, lalu Nana mengangkat paha kirinya sepinggang agar bisa mengelusi paha dan pantat Esih sambil menggenjot.

Lima belas menit telah berlalu, Nana masih semangat menggenjot Esih. Sementara Esih sendiri sudah kehilangan kendali diri, yang kini sudah tidak terlihat sebagai seorang wanita yang sedang diperkosa.

Sedangkan di celah bilik dapur sepasang mata sedang memperhatikan setiap gerakan Esih yang hanyut menikmati ulah Nana, ada rasa marah, sesal dan sedih tetapi menyadari kelemahan dirinya, Aang akhirnya hanya bisa terduduk ditanah sambil bersandar dibilik dengan lesu dan meneteskan air mata.

Kemudian Nana menggendong Esih menuju bangku dimana pantatnya mendarat tanpa melepaskan kontolnya, anehnya tanpa disuruh Esih menggoyangkan pinggulnya pada pangkuan Nana mengikuti naluri binalnya, ketika matanya melihat kedepan tampak wajah pria tampan yang sedang memandangnya takjub, senyuman kecil tergambar pada bibirnya, senyum kemenangan karena telah berhasil menaklukannya.

Posisi ini memungkinkan Nana mengenyot payudara Esih sambil menikmati goyangan Nana. Kedua tangannya meraih sepasang gunung kembar itu, lalu mencium dan menghisap puting bergantian. Gaya persenggamaan yang belum pernah dirasakannya menciptakan sensasi yang khas, saat diambang klimaks, tanpa sadar Esih memeluk Nana dan dibalas dengan pagutan dibibirnya.

Mereka berpagutan sampai Esih mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkram erat erat lengan kokoh Nana, sungguh dahsyat orgasme pertama yang didapatnya, namun ironisnya bukan ia dapatkan dari suaminya melainkan pria yang menjadi sahabat suaminya yang memanfaatkab situasi yang tidak menguntungkan. Setelah dua menitan tubuh Esih melemas dan bersandar dalam pelukan Nana.

Setelah jeda beberapa menit, kontol Nana yang masih menancap dan belum terpuaskan, Nana bangkit sehingga kontol itu terlepas dari sarangnya. Esih disuruhnya nungging dengan kedua tangan bertumpu pada bagian atas sandaran kursi. “

Oooh..udaaah doong Na, saya sudah gak kuat lagi, tolong Esih memelas dengan lirih. Nana tidak menghiraukan Esih yang memohon sambil merenggangkan kedua paha Esih dan menempelkan kepala kontolnya dibibir memek Esih. uuughha..oooh. desah Esih sambil mencengkram sandaran kursi dengan kuat saat kepala kontol melesak masuk kedalam memek Esih.

Tangan Nana meremas pantat Esih sambil menyodok nyodokkan kontolnya, cairan yang sudah membanjir dari Memek Esih menimbulkan bunyi berdecak setiap kali kontol itu menghujam. Suara desahan Esih bagaikan supporter yang memberikan semangat, sehingga Nana makin bernafsu dan meraih payudara Esih untuk meremasnya dengan gemas seolah ingin melumatkan tubuh sintal itu.

Selama lima belas menit Nana menyetubuhi Esih dengan posisi itu, seluruh bangian tubuh Esih tidak lepas dari jamahannya. Sekalipun merasakan pedih dan ngilu oleh cara Nana yang agak kasar, namum Esih tidak menyangkal bahwa ia merasakan nikmat yang sangat sulit dilukiskan yang tidak ia dapatkan dari suaminya.

Related Post