Cerita Mesum

Mila Story (Copas)

Nama saya Mila, saya seorang ibu dengan satu anak, dan sudah 5 tahun ini aku menggunakan jilbab. Sebagai ibu rumah tangga, tidak banyak yang saya lakukan, aktivitas saya hanya antar jemput anak saya yang masih TK dan mengurus rumah dan suami.

2 tahun yang lalu saya menjalani terapi akupunktur dengan seorang “mbah” akupunktur di kawasan Kelapa Gading sebelum tempat ini menjadi terkenal seperti sekarang ini. Saya menjadi pelanggan klinik ini atas saran adik saya Priska. Saya tau dia selama ini menjalani terapi akupunktur, namun bagaimana dan di mana kliniknya saya tidak pernah tau. Hingga akhirnya pada minggu malam setelah aku memaksanya untuk memberikan alamat kliniknya dia memberikannya.

Saya tidak pernah membahas mengapa dia begitu berat memberikan alamat ini dan tidak pernah mau mengantar aku ke tempat ini. Akhirnya pada keesokan harinya setelah menitipkan semua urusan rumah tangga ke adikku ini aku berangkat ke klinik akupunktur ini. Adikku sebenarnya tidak menetap di rumahku. Dia tinggal bersama orang tuaku di Bandung. Mulai Senin itu anakku satu-satunya libur dan dia seperti biasa berlibur bersama orang tuaku di Bandung. Priska memang rutin ke Jakarta selain untuk kegiatan bisnis baju muslimnya dan pastinya seperti yang aku tau, pada hari Sabtu Minggu itu dia baru saja menjalani terapi akupunktur.

Setelah mengantarkan Priska dan anakku ke biro travel, aku segera memacu mobilku ke alamat yang diberikan Priska. Priska tidak memberiku banyak informasi, namun aku bisa mencarinya dengan mudah. Priska juga tidak mengatakan padaku berapa biaya perawatan akupunktur disini. “Tiap2 orang beda-beda kok mbak, tergantung perawatannya bagaimana”. Begitu katanya, dan aku percaya dan tidak mungkin akan mahal, sebab aku tau bagaimana kemampuan keuangan Priska. Apalagi aku tau dia terapi lebih dari sebulan sekali ke klinik ini. Dan hasilnya menurutku cukup baik.

Baca Juga: Kisah Seks Ngentot Pertama Kali Dengan Pacar Pertama

Jam 9.30 aku sudah berada di klinik itu. Ruang tunggunya sepi. Tidak ada siapa-siapa, yang aku bingung tak ada petugas administrasi pencatat antrian pasien dan disitu disebutkan kalau hari Minggu tutup. Dalam hatiku berpikir mungkin kalau Minggu Priska pura-pura saja berobat di sini tapi aslinya dia pacaran, memang dia masih belum menikah, tapi dengan siapa dia dekat saat ini aku tidak pernah tau.

Tiba-tiba terdenngar suara dari intercom “ibu mau akupunktur?” saya yang tidak tau pengoperasian akupunktur pertamanya bingung bagaimana menjawabnya. Akhirnya stelah tau harus bagaimana aku menjawab “iya pak, saya Mita kakaknya Priska”. Lama sekali tidak ada jawaban. Namun tak lama kemudian pintu yang bertuliskan ruang perawatan terbuka. Seorang laki-laki berusia 40an tahun, mempersilahkan aku masuk. Dia menggunakan safari putih namun dibawahnya menggunakan sarung berwarana hijau. “panggil saja saya mbah” begitu katanya saat kami berjabat tangan.

Dibalik pintu itu ternyata bukan ruang perawatan dokter, namun lorong panjang yang berujung pada tangga menuju lantai dua. Saya dipersilahkan naik dan dia mengikutiku dari belakang. Agak risi juga, apalagi pada saat itu aku menggunakan celana panjang berbahan kaos yang pastinya cukup bisa memperilahatkan bokongku yang sudah melebar. Di lantai 2 terdapat beberapa ruangan, dan nampaknya aku pasien pertamanya hari itu. Di depan kamar2 tersebut ada seperti ruang tunggu yang dilengkapi TV. Kami duduk di situ. Mbah memberiku sebuah minuman the hijau hangat yang lumayan enak menurutku. Dia bertanya apa keluhan ku. Aku menjelaskan “ Mbah saya mau melangsingkan badan, Berat saya sudah 58 – 59, paha saya besar dan maaf Mbah, pantat saya juga melar sejak melahirkan” Saya agak gugup pada saat itu. Apalagi Mbah waktu itu hanya diam saja. Saya juga bertanya2, mengaapa orang seumur ini dipanggil Mbah. Dan dia juga bukan dukun. Dia Nampak ragu2.

“Kamu kakaknya Priska?”
“Iya Mbah, selama ini kalau dia mau terapi selalu kerumah saya dulu”. Dia terdiam cukup lama, dan ini semakin membuat saya bingung. “Coba ke sini” katanya sambil melambaikan tangan agar aku mendekat. Aku berdiri menuju kearahnya yang sedang duduk di kursi. Begitu di dekatnya di suruhnya aku membalikkan badan. Dan tanpa ba bi bu dia memegang pantatku dengan kedua tangannya. Kemudian pahaku juga dipegangnya. Walaupun kaget tapi mencoba untuk tenang, karena kupikir ini sebagian dari pemeriksaan sebagaimana layaknya dokter.
“Ada keluhan lain, selain pantat dan paha” sahutnya lagi sambil tetap memegang pantatku. “Perut saya, Mbah, dan…” belum selesai saya bicara dia sudah menyela “Pantatnya normal kok…. Pahanya juga gak terlalu besar. Agak kecewa karena seolah2 ditolak saya menjelaskan “ Dulu celana saya ukuran 29 Mbah. Sekarang 30-31”. “ya sudah ibu-ibu itu wajar” sahutnya lagi. “Tapi saya sekarang gak berani pake celana jeans lagi mbah. Apalagi perut saya… mmmm lingkar pinggang saya sudah melar Mbah” lanjut saya sambil mengambil tangan kanan si Mbah yg sedang memegang pantat saya ke perutku. “Ohhhh…” Si Mbah bergumam. Puas dengan reaksinya aku pun mulai sedikit tenang “lengan saya juga mulai besar Mbah. Dan maaf ya Mbah payu dara saya agak turun”. Mbah melepaskan tangannya dari perut dan pahaku. Dia duduk bersandar sambil menengadahkan kepalanya ke arahku.

“Sebetulnya masih wajar Mila, mungkin…” belum selesai dia bicara, kali ini saya yang memotong perkataan si Mbah. Tapi saya gemuk dan berat badan saya naik 5 kg Mbah, dan ini agak kendor.” Kataku sambil memegang buah dadaku. Begitu si Mbah berdiri aku agak menyesal dengan kata-kataku, pasti dia akan memegangnya batinku. “Jarang olah raga ya?” katanya sambil memegang lenganku. Tak seperti yang kubayangkan dia beranjak ke lemari yang berada di dinding ruangan dan mengambil kimono dari sana. “ Tolong Tasnya” sahutnya sambil memintaku menyerahkan tas. Task u di masukkan dalam lemari, dan aku dipersilahkan masuk ke ruangan untuk berganti baju. Akhirnya aku lega, mau juga orang ini melayani aku. Aku sudah hamper menelepon Priska dan complain kok ada therapist menolak pasien. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah tempat tidur pasien layaknya tempat tidur yang ada di dokter. Dan di sisi kiri ruangan hanya terdapat cermin besar yang ditempel di dinding. Setelah melepas semua bajuku dan menggunakan kimono, aku merebahkan badanku. Si Mbah membuka pintu, “duduk diluar dulu mbak, belum mulai kok”. Agak malu aku pun keluar ruangan. Aku duduk di sofa yang tadi dan si mbah memberiku secangkir the hangat lagi. Kali ini rasa dan baunya agak aneh. Warnanya agak kuning, dan baunya agak strong. Waktu aku minum aku agak tersedak, si mbah memberiku sepotong biscuit. “Ini biar gak eneg, Kalau minum sekali teguk saja” Belum aku minum di menuangkan sesuatu dari poci kecil yang aku pikir dari kentalnya itu gula. “ ya sudah minum ya…. Sekali teguk saja” katanya.
Aku minum, yahkkk jamu apa ini, dan pastinya tadi bukan gula. Agak muak dengan rasa the yang anyir akupun melahap biscuit dan menerima air putih yang disodorkan si Mbah. “itu untuk merontokkan lemak” kata si Mbah dengan dingin. Ekspresinya masih membuatku agak jengkel. “Ada keluhan lain?”. “ada mbah, saya agak keputihan.” Si Mbah melepaskan kacamata tebalnya. Hmm agak lumayan tampangnya kalau begini batinku. “Sering pakai panty liner ya?”. Aku mengangguk. “Mulai sekarang jangan di pakai ya”. Aku mengangguk lagi. “Punya pohon sirih?” aku menggelengkan kepala, lumayan bersuara nih si Mbah sekarang. “Ya sudah, ayo masuk” perintahnya. Di dalam aku disuruhnya tengkurap. Bajuku yang kutaruh ada di atas tempat tidur diambil kemudian dia taruh diluar. Entah di laci yang sama dengan tasku atau dimana entahlah.

Pengalamanku ini bermula dari sini. Dari ruangan ini dan dimulai dari sejak tangan-tangan si Mbah memijitku. Maaf buat pembaca pria mungkin aku kurang pandai bercerita.
Si Mbah mulai melakukan pijitan refleksinya di ke dua telapak kakiku. Namun tidak membuatku terlalu kesakitan seperti pemijat2 refleksi lainnya, namun cukup lama dan dia melakukannya dengan sangat teliti. Satu persatu, dan sama sekali tidak berbicara. Beberapa kali aku bertanya sekedar memecahkan suasana. Tapi dia diam saja. Terakhir aku bertanya lagi “Mbah, minggu kan tutup, tapi kemarin Priska ke sini ya?”. Dia pertamanya diam. Namun dengan sedikit menekan jempol kaki kiriku dia menjawab “Minggu dia gak terapi kok. Ini gak sakit ya”. “Nggak Mbah….” Berarti kemana tuh anak tiap minggu batinku. Soalnya kalau minggu dia berangkat pagi sampai di rumah paling jam 6 atau jam 7 malam.

Selesai dengan refleksi. Dia mulai memijit betisku. Ohh pake pijit toh batinku. Dia mengoleskan minyak yang cukup harum ke betisku dan mulai memijatnya. Dia membalurkan minyak itu sampai ke dua paha ku. Dan secara tidak sengaja ketika aku menggerakkan telapak kakiku, aku menyentuh selangkangannya. Hahh sepertinya si Mbah gak pake CD batinku. “Maaf mbah….” Ujarku canggung. “Jangan banyak asin-asin sama pedes2 dulu ya untuk sementara waktu, sama jangan pake sepatu tinggi. Kan sudah tinggi kamu” Aku melirik ke cermin di dinding kiri, Nampak dia menunjukkan keloid yg ada di pahaku. Ohh itu toh fungsinya kaca ini batinku. Dan dia juga gak membahas insiden tadi sama sekali. Kimonoku disibakkan lagi. Dari kaca aku melihat tangannya mulai memijit2 kearah pantatku dan bagian bawah kimono ini sudah tersingkap hingga dipinggangku. Kalau begini kenapa Priska gak bilang ya. Mestinya aku kan ditemani suamiku atau paling tidak Priska sendiri. Aku kan berjilbab. Tapi nampaknya si Mbah cukup professional, selama dia gak kurang ajar mungkin aku diam saja. Dan lagipun sepertinya dia gak aneh2 dengan Priska selama ini. Begitu pijitannya di pantatku, dia lagi2 tanpa babibu, langsung membuka celana dalamku. Aku yang agak kaget dan hendak protes jadi diam karena dia langsung sigap memijit pantatku hingga pinggang.

“Nah ini kalau kamu rajin ngepel setiap hari pasti kenceng kok” Sambil kedua jempolnya menekan dia tulang panggulku. “Aduh ngilu Mbah”. “Coba agak nungging” Aku menurut saja, sambil melihat apa yang dilakukan si Mbah lewat kaca cermin. Ketika aku nungging dengan bertumpu di atas dengkul, si Mbah mengurut bagian samping pantat dan pahaku. Dan kurang ajarnya celdamku diturunkan hingga ke dengkul. Tapi pijatannya membuatku kesakitan hingga tak bisa protes. “Kamu harus sering-sering olah raga, dan ini panty liner jangan di pake lagi” Ujarnya sambil memungut panty linerku dan membuangnya. Aku hanya diam saja. “Sudah tengkurap lagi” perintahnya. Ditariknya kimonoku hingga pantat yang tak tertutup celana itu tertutup kimono. “Mbah celananya saya pake dulu…” Belum selesai aku bicara, “Ga usah nanti juga ditusuk jarum, buka dulu kimononya” Aku gak bisa protes dan nurut saja membuka lengan kimononya. Kimonoku diturunkan untuk menutupi area pinggang dan bawahku. Dia mulai memijit punggungku. Dan aku diam saja ketika dia membuka bra ku dari belakang. Dia mulai memijit dan mengurut punggungku. Ku akui pijitannya lumayan enak. Dan kali ini dia tidak banyak bicara, nampaknya dia sangat berkonsentrasi. Dia pun membiarkan saja waktu kimono yang menutupi pantatku secara tidak sengaja jatuh ke lantai. Sementara aku melihat diriku di kaca agak bingung mengatakannya dan membayangkannya. Aku berjilbab tapi boleh dibilang di bawah sana benar-benar telanjang. Celana dalamku melingkar di dengkul ku, sedangkan bra ku sudah tidak benar2 terpasang dengan sempurna. Waktu si Mbah memijat leherku, aku pun bertanya, “Apa kerudungku di buka saja Mbah?”. “Nggak usah… bisa kok”. Wah di liuar dugaan. Berarti dia benar2 professional. Aku pun berpikir. Di ruangan ini Cuma berdua, dan aku telanjang. Ahhh bukan Cuma diruangan ini. Di ruko ini tidak ada siapa2.

Si Mbah Nampak tenang-tenang saja. Lengannya Nampak mulai berkeringat. Dia mengambil remote AC dan mengatur suhu ruangan agar aku tidak terlalu kedinginan. Diambilnya lagi kimono yang di lantai dan mulai ditutupkan ke punggungku. Dia berpindah ke atas kepalaku, dan memijat pundakku dari atas. Otomatis “anunya” berada tepat diatas kepalaku. Dia terus mengurut pundakku, dan aku melihatnya dari cermin. Sesekali “anunya” tentu menyentuh kepalaku. Aku agak geli melihat apa yang terjadi lewat cermin. Tapi si Mbah dengan tenang dan dingin meneruskan pekerjaannya. Selesai melakukan pijitan. Si Mbah mengambil jarum2 akupunktur yang berada di ujung ruangan.

“Semuanya masih baru ya Pris”. “Mila Mbah…” sahutku mengoreksi. “Oh ya maaf”. Jawabnya
“Priska sudah berapa lama Mbah ke sini?”
“Oh Lama juga, hamper sejak buka”
“Bukannya sekarang dia sudah langsing Mbah?”
“Kalian sama, manja… jarang olah raga”
Bah jawabannya selalu sepotong2. Tiba-tiba perhatianku mengarah ke sarungnya. Hmmm “anunya” ternyata bereaksi juga. Aku agak geli, apalagi kalau dipikir2, lagi2 seperti tadi. Aku telanjang dan Cuma berdua dengannya, dan lagi2 kulihat “anunya” yang bangun dari balik sarung. Tapi sejauh ini, tidak ada tanda2 si Mbah kurang ajar denganku.
Ketika semua jarum di pasang di betis, paha, pantat, pinggang dan punggung, dia mengambil celana dalamku. “Ini saya cuci terus jemur ya”. “Iya Mbah, maaf ya… agak basah”. “Gak apa2. Sudah lama?”, “Sudah Mbah”. Si Mbah sekarang mematikan AC, dan keluar ruangan. Tak lama kemudian dia kembali, dan hendak memasang jarum di belikat dan pundakku. “Sudah terpasang semua, nanti tidur saja.” “Boleh saya telpon MBah?” “sebetulnya ga boleh ada HP di ruang rawat”. “Anak saya ke Bandung sama Priska Mbah”.

Si Mbah keluar dan kembali membawa HP. Saya menelepon Priska. “Ka sudah sampe mana?” “ Masih di Tol mbak, memang belum di terapi ya”. “Sudah ini sudah dipakein jarum”. “Lho kok boleh telpon”, “Iya aku minta ijin”. “Anakmu tidur Mbak”. “Ya sudah deh nanti sms ya kalau sudah sampe” “Ya Mbak, sudah minum jamu mbak?”. “Sudah tadi 2 gelas tadi waktu sebelum dipijit”. “Gelas? Kok pake gelas?”. “Ya gak tau deh, ya sudah ya Ka”. “Ya Mbak”
Aku tutup HPnya. Tadinya aku mau telpon suami tapi ya sudah nggak enak. HPnya pun aku switch off ku berikan HPnya pada Si Mbah. Si Mbah pun berlalu. Selama aku sendiri, aku merasa tusukan2 jarum ini membuatku sedikit merinding, terbayang bagaimana tadinya jarum ini satu persatu dipasang di badanku. Waktu tangan si Mbah memegang semua seluk beluk tubuhku. Terus terang itu saja yang aku pikirkan terutama “anunya” si Mbah yang berdiri. Aku juga kepikiran apa yang dilakukan dengan Priska, apa dia tegang juga, dan Priska yang jauh masih muda, langsing dan putih apa tidak membuat si Mbah tergoda. Apalagi reaksi Priska yang merahasiakan tempat ini. Aku melirik ke kaca lagi. Hmmm pantatku terlihat membumbung dengan jarum2 berasap di atasnya. Hmmm tadi si Mbah sempat mengintip miss V ku dong. Apa yang dipikirannya hingga dia ngaceng seperti tadi ya? Mungkin dia ingin melakukannya dari belakang, he he he aku agak geli memikirkannya. Ahhh tapi aku belum pernah di begitukan oleh suamiku. Tapi dipikir2 dia professional juga ya. Oh ya bagaimana keputihanku ya? Aduh jangan2 keluar deh. Kok tadi belum diterapi ya? Aku terus memikirkan yang tidak2 hingga aku tertidur, begitu terbangun Si Mbah sudah berada di ruangan lagi. Dan aku makin merinding ketika tangannya mulai mencabuti jarum2 tadi. “Mbah, keputihan saya bagaimana?” “Iya satu2 dong”. “Maaf saya takut keluar tadi”. Tiba2 tangannya memegang area itu dan aku benar2 kaget ketika dia pun mengusap2nya. Aku yang benar2 kaget tapi tidak marah atau bagaimana. Malah melihatnya dari kaca cermin. Ohh pemandangan itu makin membuatku sesak. Apalagi jari2 tangan itu mulai membelai liang miss V, dan aku diam. “Coba nungging lagi…” Aku pun menuruti perintah itu sambil melihat di cermin bagaimana erotisnya posisiku. Dipegangnya lagi miss V ku, dan terus terang aku terangsang. “Coba sekarang terlentang”. OK sekarang aku benar2 bugil di depannya, dan aku diam saja menurutinya.

Dia mengambil jarum lagi dan menusukkan di sekitar miss V ku. Lalu diambilnya minyak lagi dan dibalur di perut dan akhirnya payudaraku pun mendapatkan jatahnya. Aku melihatnya di cermin, bagaimana aku kini benar2 telanjang dan hanya menggunakan jilbab. Aku tau putingku berdiri saat dia membalurku. Aku malu tapi diam saja malah menikmati pemandangan di cermin. “Gak terlalu kendor, apa ukurannya mau dikecilin?” Ujar si Mbah sambil membalurkan minyaknya. Aku diam, bahkan mungkin tidak sadar kalau si Mbah sedang bertanya. “Memang dari dulu segitu MBah, Cuma takut kendor” aku tau putingku sekarang benar2 tegak, dan ketika si mbah menyentuhnya aku benar2 gak bisa menahan rasa geli yang sepertinya nyambung dengan tusukan jarum di sekitar vaginaku. Tanganku pun tanpa sadar melingkar di pinggangnya, napasku menderu, dan aku sedikit melenguh. Si Mbahpun memainkan jempolnya diputingku. Aku tidak berani menatapnya, hanya melihat cermin dari balik tubuhnya. Reaksinya masih dingin2 saja. Sementara itu tangan yang satunya pun berpindah kea rah miss V ku. Di putar2nya jarum itu dan aku pun mengelinjang dibuatnya. Satu per satu dicabutnya dan setelah tak ada satu jarum di tubuhnya aku pun membalikkan tubuh ke arahnya.
Membiarkan tangan kirinya bermain di putingku dan kanannya di vaginaku.

Vaginaku membasah apalagi saat jari yang ke 2 berada di dalamnya. Aku menggelinjang gak karuan, Si Mbah menarik kedua tangannya, aku agak kaget dan kecewa mungkin (aku agak lupa), tapi ternyata dia hanya membuka sarungnya, dan benar saja. Ternyata tak ada celana dalam dibaliknya. Dan Mr Happy yang berukuran sedang tak jauh beda dengan milik suamiku itu tegak terpampang dihadapanku. “Ayo….” Ujar si Mbah. “Aku belum pernah begini mbah sama…” Tangan si Mbah lebih cepat bergerak mendorong kepalaku dan mulutku pun bungkam oleh “anunya”. Aku yang tidur menyamping menghadap cermin bisa melihat si Mbah bottomless dengan tangan kirinya memainkan payudaraku dan tangan kanannya memainkan vaginaku. Sementara mulutku penuh dengan anunya.
Tangan si Mbah di vaginaku benar2 luar biasa, tidak sampai 5 manit aku pun kelojotan dibuatnya. Tak lama setelah aku meregang, tangan si Mbah mulai masuk lagi dan aku terbeliak saat tiga jarinya kini masuk. Akupun tidak kuasa menahan teriakan kecilku. Dan apalagi sepertinya salah satu jarinya menyentuh sesuatu yang bener2 membuatku kelojotan. Itukah G Spotku? Si
Mbah mengurangi satu jarinya, hingga aku sedikit bisa bernafas sedangkan tangan kirinya memegang kepalaku. Kali ini anunya yang tadi terlepas dibenamkan ke tenggorokanku. Dengan posisi miring begini benar2 membuat mulutku penuh. Dan kini si Mbah mulai menggenjotku. Aku lupa detailnya bagimana, tapi tak lama kemudian yg aku tau aku pun orgasme lagi. Tapi si Mbah tetap saja tidak mengeluarkan tangan dan anunya dari tubuhku. Mataku sudah berkali2 terbelalak2. Karena tidak kuat dengan apa yang terjadi aku sedikit mendorong tubuh si mbah. Tapi itu Cuma bisa membuat anunya keluar dari mulutku. Tangannya tetap bermain di anuku. Aku menggelinjang gak karuan hingga aku meregang dan akhirnya setengah terduduk menahan rasa di vaginaku. “Mbaaaaaaaaaaaaaaaah stop”. Tanganku meraih tangan kanannya meminta untuk mencabut dari vaginaku namun sekali lagi mungkin karena dia sudah tau di mana G Spotku, si mbah menekannya kuat-kuat dan menggosokkannya lagi. Akupun kelojotan lagi sambil menahan tangan kanan si Mbah agar keluar dari vaginaku. Sementara tangan kiriku mencakar pundaknya. Tapi upayaku sia2 walaupun aku sudah meminta2 agar si Mbah menudahinya tetap saja tangan kanannya menggosok2 vaginaku. Akhirnya setelah orgasme lagi akupun terkencing2 dibuatnya. Aku sudah gak tahan lagi.

Aku yang lemas lunglai tergeletak masih harus menerima hujaman anunya si mbah. Walaupun agak lama juga, akhirnya keluar semua sperma si Mbah di mulutku. Aku diharuskannya meminum semuanya, sementara sisanya masih meletup2 mengenai wajahku. Aku tidak boleh memuntahkan spermanya, atau membersihkan wajahku. “aku belum pernah begitu mbah”. “begitu apa?”.”Oral” Sahutku. “aku nggak ngerti istilah oral”. “aku nggak pernah cium anunya suamiku sendiri mbah”. Si mbah mendekatkan wajahnya ke wajahku “Apa itu namanya?”. “Iya mbah nyepong mbah”. Si mbah member aba2 agar aku membersihkan anunya. Akupun menuruti dengan menjilatinya hingga bersih. “ Yang bersih ya, mungkin sebentar lagi ada pasien lain yang datang” Kata si Mbah dengan dingin.

Setelah bersih si mbah mengenakan sarungnya lagi. Dia mengambil sebuah gulungan daun sirih. “Ini obat supaya gak keputihan” Dimasukkanya gulungan sirih itu ke vaginaku. Dan ikatannya yang dari seutas benang kasur diikatkan ke pinggangku. “Jangan sampe lepas” Katanya. Aku pun berdiri ketika si mbah meraih kain sprei yang basah oleh kencingku atau apalah tadi itu aku gak tau. “Bajumu diluar” ujar si mbah dengan dingin. Sebetulnya aku ingin di peluk olehnya tapi aku gak berani. Sekejap aku melirik ke cermin. Ada sedikit sisa air maninya menggantung dari kening ke hidungku, dan aku tidak berani membersihkannya. Aku melihat ikat pinggang dari benang kasur dan aku pun berjalan dengan sangat hati2 agar gulungan daun sirih ini tidak lepas. Tapi sebetulnya ukurannya cukup besar dan layaknya tampon semestinya tidak usah diikat begini.

Sesampai di luar yang ada hanya celana panjang dan bajuku saja. “Aku simpan semua bh dan celana dalam pasienku” ujar si mbah. Aku pun diam saja. Setelah berpakaian aku pun bertanya “ Semua berapa Mbah?”. “700 ribu” sahut si Mbah. “Mbah mahal sekali?”. “Memang Priska nggak bilang? Ya memang segitu, mestinya satu juta, tapi kamu tadi nyepongnya lumayan, jadi 700 ribu”. Aku bingung dengan jawaban itu. Aku tersinggung tapi gak bisa marah. “Cuma ada 300 Mbah”. “Di ruko seberang ada ATM Center. Saya tunggu ya” Si mbah masuk ke kamar mandi.

Saya pun bergegas turun. Saat di anak tangga, pengaruh dari daun sirih di vaginaku mulai bereaksi. Aku geliii sekali. Apa lagi ketika aku harus nyeberang jalan. Di bawah terik sinar matahari jalan ramai, mulai terpikir oleh aku. Di balik bajuku ini aku tidak menggunakan underwear. Di depan ruko ini Mall Kelapa Gading. Aduh aku lupa di mana ATM mandiri. Aku bingung bagaimana kalau ada temanku. Karena biarpun atasan ini berlengan panjang dan berleher penuh tertutup tapi bahan kaos ini cukup bisa memperlihatkan payudaraku yg tanpa BH, atau celanaku yg juga dari bahan kaos. Duuuuh gimana kalau ada yg notice. Setelah bertanya ke satpam aku pun menuju atm center. Bekas sperma si Mbah mulai mongering di wajahku. Baunya sedikit menggangu, tapi aku takut. Aku jadi takut kalau ketemu saudara teman atau apalah. Karena tidak tenang aku berjalan agak cepat tapi, gesekan terhadap daun sirih itu membuatku benar geli. Tak lama efek daun sirih yg memberikan rasa isis mulai menyiksaku. Vaginaku terasa hangat sekaligus dingin terkena desiran angin. Daun sirih yang tadinya kering terkena cairan vaginaku yang keluar karena geli mulai mengembang. Dan akupun mulai sulit berjalan. Setelah mengambil uang aku pun berjalan kembali. Setelah berada di halaman Mall rasa di vaginaku mulai menghebat terutama setelah terkena terpaan angin yang mengenai tubuhku dan vaginaku yang makin ISIS. Tapi aku tahan setelah menyeberang dan berjalan kea rah ruko si mbah aku mulai tidak tahan, aku merasa vaginaku makin basah. Untungnya aku masih kuat masuk ke ruko si Mbah. Di dalam aku mulai tertatih tatih terutama ketika menaikki tangga. Sesampainya aku di lt 2 aku sangat terengah2. “Mbah, sirihnya aku lepas saja ya… Aku gak kuat” Si Mbah yang sedang duduk di sofa membuka sarungnya, “Ini dulu dong” tangannya menunjukkan anunya yang sedikit tegang. Aku bersimpuh di depannya menuruti perintahnya. Mulai kumasukkan batang kamaluannya yang belum bereaksi itu ke mulutku. Si mbah menarik baju kaosku hingga akupun topless. Begitu terbuka dimainkannya payudaraku. “Masih bagus… berapa ukurannya?” “34 C Mbah, tapi agghhh” aku disumpal lagi dengan anunya yang tak lama kemudian membesar dengan tegang. Aku disuruhnya berdiri dan dibukanya celanaku dan dibuka ikat pinggang daun sirih itu. “Hmmmm sudah basah”. “kayaknya… seperti tadi saja mbah”. Maksudku mengatakan itu adalah untuk menolak berhubungan badan dan melakukan oral saja, tapi si Mbah mulai menjilati vaginaku dan permainan lidah dan jarinya membuatku gelid an tak tahan lagi. Dan akupun menurunkan tubuhku, kupegang kemaluannya, ku arahkan ke vaginaku dan blesss. Vaginaku yang sudah basah penuh itu melahap habis anunya si mbah. Aku memejamkan mataku, aku sedikit malu. Ketika aku mulai bergerak naik turun putingku sedikit sakit tergesek dengan safari si Mbah yg masih terpasang. “Mbah curang, kok aku aja yang telanjang”. Si Mbah menepak pantatku, aku pun mencabut vaginaku dari anunya. Di berjalan menuju satu kamar. Di kamar ini tempat tidurnya benar2 tempat tidur, tapi seluruh ruangan dilapisi cermin. Dalam keadaan berdiri aku disuruhnya membukakan bajunya. Kini dia telanjang. Tubuhnya biasa2 saja. Dia merebahkan badannya, dimintanya aku menjilati anunya agar kembali mengeras. Saat aku menyepongnya HPku berbunyi tanda SMS masuk. “Ambil” ujar si Mbah. Aku mengambilnya, ketika kembali ku lihat si Mbah sedang berbaring sambil mengusap2 anunya yang makin tegang. “ Sinih…” Aku menuruti dan memang sudah tak sabar. Aku melihat di cermin bagaimana aku berada di atas tubuh si Mbah, meraih anunya, dan memasukkannya. Ohhh luar biasa, lagi2 aku memejamkan mataku.

Aku mulai bergerak seperti penunggang kuda, payudaraku mulai berayun2. Si Mbah memainkan payudaraku. Dibandingkan dengan Priska payudaraku jauh lebih besar. Dia hanya 34 A. Tapi Priska tinggi semampai dan putih seperti ayahku. Sedangkan aku hitam manis. “Vaginamu enak Mil, ayo goyang” ujar si Mbah sambil menepuk pantatku. Dia pun aktif menyodok2 dari bawah. Tak lama aku pun kecapekan di atas. “ Belum keluar kan?”. Aku tidak menjawabnya. Dia kini di atas dan aku dibawah. Aku melihat dari kaca. Yg ada di plafon. Ya ampun init oh fungsinya kaca-kaca ini. Dan aku melihat bagaimana dia menarik kakiku hingga mengkangkang. Menaruh bantal di pantatku dan menghujamkan anunya. Apa yang aku lihat dan aku rasakan benar2 membuat aku melayang. Walaupun gaya misionaris biasa aku tetap melihat apa yg terjadi di cermin, sungguh2 luar biasa… melihat Si Mbah menyetubuhiku. Inikah yang dilakukan si Mbah pada Priska, dan juga pasien2 lainnya. Si Mbah tak kan menciumku aku tahu itu karena seluruh wajahku masih belum bersih sehingga selama ini dia berkonsentrasi dengan genjotannya saja. Tiba-tiba dia meminta aku menungging seperti tadi, ahhh aku belum pernah melakukannya. Saat aku nungging aku masih bisa melihat kaca di depan dan samping apa yg si Mbah lakukan. “Siapa namamu”. “Mila Mbah”. “Mila siapa?”. “Mila Mastiti”. “Ini Apa?”bentaknya. “Ini anunya mbah”, “Apppppaaaa anu”. Blessss dihujamkan anunya kuat2 ke vagina ku yg sedang nungging dari tadi. “uhhhhhhhh” aku melenguhhhh panjang”.”Apa namanya sayang?”.”Kontol Mbah”, “Bagus, berarti kamu sedang diapain”.”Dientot Mbah”.

Aku ingat benar dialog itu. Akhirnya itu benar2 terjadi, dan aku juga ingat bagaimana kontolnya menghujamku tanpa ampun walaupun aku baru saja orgasme. Dalam posisi doggy style memang memungkinkan si Mbah menyentuh GSpotku. Aku habis orgasme 2 kali. Dalam kondisi lemas. Akhirnya si Mbah mengalungkan kakiku di pundaknya. “Sorry, di dalam ya….” Dia pun menggenjotku penuh nafsu, Dia pun meracau habis2an, dan itupun terjadi diapun berejakulasi di vaginaku. Aku sudah terlalu lemas, karena 2 kali orgasme waktu doggy style tadi. Posisi ini memnag tidak membuatku orgasme. Tapi itu tidak penting karena ini giliran si Mbah. Dan ini memang moment yang paling kuingat ketika tubuh si Mbah mengejang di atas tubuhku, dan aku melihatnya melalui cermin, bagaimana tanganku mencengkeram kuat pantat si Mbah yang sedang menghujamkan kontolnya ke vaginaku. Dan semburan sperma itu begitu keras dan deras rasanya. Aku menciumi pipi si Mbah dan bahunya.
Si Mbah mencabut torpedonya, sisa spermanya masih ada disemprotkan ke payudaraku, dadaku, dan aku pun mengerti untuk menjilatinya hingga bersih.
Sekitar ½ jam kami berbaring lemas, bel tanda pasien datang berbunyi. Si Mbah bangkit, “Tunggu 1 jam lagi ya” Ujarnya. Dia ke kamar mandi, dan aku tau di segera mandi. Saat dia mandi aku melihat diriku yang telanjang di cermin yang terletak di atap ruangan kamar ini. Tubuhku benar2 bugil, aku memegang selangkanganku yang masih terasa panas. Aku tersenyum melihat diriku sendiri. Apalagi mengingat apa yg baru saja terjadi. Selangkangan, perut, dada, leher dan wajah masih berbekas semprotan spermanya. Si Mbah memang gila batinku, aku benar2 dilecehkan. Tapi aku benar2 tidak menyesal.

Tak lama setelah dia keluar, aku pun hendak mandi. Tapi dilarangnya. “Gak usah gitu aja” Aku pun menurutinya. “Mbah besok aku boleh ke sini terapi lagi” tanyaku. “Boleh, jangan lupa bawa uang yg cukup ya biar gak usah ke ATM. 700 ribu ya.” Aku pun ingat dengan uang yg aku ambil tadi, lalu menyerahkan ke si Mbah. Sialan dia sudah pake aku seenaknya sekarang tetap saja aku harus bayar.
“Mbah, memang gak ada diskon buat aku? Mana cukup uangku Mbah? Priska kok bisa?”.
“Dia juga bayar kok, yah kalau bisa bawain langganan baru yang ok boleh kok” Ekspresinya masih saja dingin. Aku akhirnya bersiap siap menggunakan baju ku. Melihat si Mbah sudah rapih aku tau kalau sudah waktunya aku pergi.” Tunggu dulu di sini ya”. Si Mbah turun menghampiri pasiennya dan dari suara yang ada aku pun tau, pasiennya perempuan lagi. Tak lama suara mereka hilang dari pendengaranku. Sepertinya mereka berdua memasuki sebuah kamar lain. Tapi tak lama kemudian si Mbah yg masih rapih berada di kamarku lagi. “Cantik ya Mbah?”. “Nggak biasa aja, ibu2 muda juga”. Ahhhh mbah pasti bohong. Akupun bersiap2 pulang. “Tunggu dulu, semua baju dalamnya buat aku. Cepat buka! “ Aku menuruti perintah mbah membuka bra dan celana dalamku dan kuberikan padanya.

Setelah itu Mbah mengantarkan aku turun hingga ke parkiran. Ketika aku sudah di mobil, mbah mengetuk jendela kacaku. Setelah ku buka kaca mobil kepalanya menjulur ke dalam “Kamu enak juga” tangannya meremas2 dadaku. Sambil menyeringai dia berkata padaku “kamu buka rok mu!” aku menuruti perintahnya. Gila! Apa dia mau grepe2 aku dalam kondisi begini ya? Atau dia masih mau main lagi? Ternyata tidak rok ku diambilnya “sekarang kamu pulang, terserah gimana ya?” setelah berkata begitu dia mundur dan melambaikan tangannya. Aku berkali2 protes namun tidak di dengar dia malah berbalik masuk ke dalam ruang prakteknya.

Aku kebingungan karena tidak mungkin turun, belum lagi aku malu oleh beberapa orang yg sempat melihat ke arahku. Akhirnya aku pulang juga. Sepanjang perjalanan aku menutupi bawahanku hanya dengan tas. Berkali2 aku mengumpat ulah si Mbah. Aku benar2 dilecehkan. Sesampai di depan rumah aku menelepon pembantuku agar membuka pintu pagar dan garasi. Di dalam garasi aku tidak langsung turun, aku menunggu siti membawakan sarung untukku.

Related Post